Maman Abdurahman SR dan Dede Supriyanto
Jurusan Pendidikan Luar Biasa FIP Universitas Pendidikan Indonesia
ABSTRAK
Berdasarkan hasil observasi, diketahui anak autistik ini mengalami hambatan bahasa reseptif dan ekpresif khususnya dalam pemahaman makna kata. Pemahaman makna kata merupakan faktor paling mendasar dalam kemampuan berbahasa. Kata pertama yang perlu dipahami anak adalah kata benda. Diketahui pula anak sudah mampu mengucapkan beberapa kata benda, tetapi kesulitan memahami kata-kata benda yang diucapkannnya. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran pengaruh penerapan pendekatan multisensori terhadap pemahaman makna kata pada anak autistik, khususnya di dalam memahami kata benda. Dilaksanakan di SD Bintang Harapan Bandung. Anak autistik sebagian besar memiliki kemampuan intelegensi di bawah rata-rata, sehingga mayoritas dari mereka mengalami hambatan pada bahasanya. Kemampuan dasar berbahasa adalah pemahaman makna kata. Pemerolehan seseorang terhadap makna kata tidak terlepas dari berbagai pengamatan yang dilakukan terhadap semua yang dimilikinya melalui indera yang dimulai sejak bayi. Metode multisensori adalah cara teratur yang digunakan untuk membantu anak mencapai peningkatan kemampuan kognitif dan perilaku adaptif dengan memfokuskan pada pemfungsian semua indera secara simultan
Hasil penelitian menunjukkan, bahwa pendekatan multisensori memiliki kontribusi yang berarti dalam meningkatkan kemampuan memahami makna kata. Dengan demikian pendekatan multisensori cocok menjadi metode intervensi dalam meningkatkan pemahaman makna kata pada anak autistik, meskipun masih bersifat variable (tidak stabil) karena skor trend stability masih berada di bawah 85%.
Kata kunci : Pendekatan multisensori, pemahaman makna kata, anak autistik.
File Lengkap silahkan unduh di :
http://file.upi.edu/Direktori/FIP/JUR._PEND._LUAR_BIASA/195706131985031-MAMAN_ABDURAHMAN_SAEPUL_R/ARTIKEL.pdf
Bacalah.. Bukan untuk mempertentangkan dan menyangkal; bukan untuk mempercayai dan menganggap sudah sewajarnya; bukan untuk memperbincangkan dan menjadikannya wacana; namun untuk mempertimbangkan dan merenungkan. (Francis Bacon). Silahkan memberikan komentar untuk memperkaya informasi... Minimal menandakan anda telah membacanya :)
Tuesday, November 6, 2012
Saturday, May 12, 2012
Optimalisasi Support System dalam Penyelenggaraan Pendidikan Inklusi
Paradigma baru yang terjadi dalam pendidikan melalui hadirnya konsep baru pendidikan khusus yaitu berupa sekolah inklusi, menghasilkan berbagai issue yang terdengar dalam masyarakat. Ini merupakan kontroversi awal bagi hadirnya new product di dunia pendidikan yang disebut “Education For All (EFA)”. Sebenarnya ini bukanlah suatu produk baru lagi, namun para ilmuan pendidikan baru menyadari bahwa pendidikan yang selama ini ada sebenarnya adalah hak semua manusia yang pantas untuk mereka tuntut, entah itu untuk manusia normal maupun manusia yang berkebutuhan khusus. EFA merupakan suatu kesadaran publik yang membawa banyak pembenahan pada pendidikan yang selama ini telah ada.
Penyelenggaraan pendidikan inklusif di Indonesia sampai saat ini memang masih mengundang kontroversi (menurut Sunardi, dalam Yanti D.W, 2010). Namun praktek sekolah inklusif memiliki berbagai manfaat. Misalnya adanya sikap positif bagi siswa berkelainan yang berkembang dari komunikasi dan interaksi dari pertemanan dan kerja sebaya. Siswa belajar untuk sensitif, memahami, menghargai, dan menumbuhkan rasa nyaman dengan perbedaan individual. Selain itu, anak berkelainan belajar keterampilan sosial dan menjadi siap untuk tinggal di masyarakat karena mereka dimasukkan dalam sekolah umum. Dan dengan sekolah inklusi, anak terhindar dari dampak negatif dari sekolah segregasi, antara lain kecenderungan pendidikannya yang kurang berguna untuk kehidupan nyata, label “cacat” yang memberi stigma pada anak dari sekolah segregasi membuat anak merasa inferior, serta kecilnya kemungkinan untuk saling bekerjasama, dan menghargai perbedaan.
Konsekuensi dari penyelenggaraan program ini adanya kebutuhan biaya yang lebih besar, sehingga idealnya pemerintah mengambil peran agar benar-benar pendidikan ini dapat terlaksana dengan baik. Untuk menopang suksesnya penyelenggaraan Pendidikan Inklusi perlu kerjasama dengan semua pihak mengingat kemampuan Pemerintah untuk membantu masih sangat terbatas sementara anak dengan hambatan tertentu yang belum tertampung mengikuti pendidikan formal semakin banyak sehingga dapat menjadikan kendala suksesnya Wajib Belajar 9 Tahun.
Pendidikan Inklusi dalam penyelenggaraannya memiliki beberapa kelebihan dibandingkan dengan pendidikan terpadu atau pendidikan khusus (segregasi) sehingga sangat tepat apabila pemerintah menyelenggarakan dan mengembangkan program ini. Dengan diselenggarakannya pendidikan Inklusi bukan berarti SLB (Sekolah Luar Biasa), sekolah terpadu dan SDLB (Sekolah Dasar Luar Biasa) ditutup, akan tetapi dijadikan mitra kerja yang baik dengan penyelenggaraan Sekolah yang inklusi, bahkan kalau perlu dijadikan laboratorium sekolah dan nara sumber bagi guru-guru khusus yang mengajar di sekolah inklusi.
Permasalahan lain yang muncul adalah minimnya sarana penunjang sistem pendidikan inklusi, terbatasnya pengetahuan dan ketrampilan yang dimiliki oleh para guru sekolah inklusi menunjukkan betapa sistem pendidikan inklusi belum benar-benar dipersiapkan dengan baik. Apalagi sistem kurikulum pendidikan umum yang ada sekarang memang belum mengakomodasi keberadaan anak-anak yang memiliki perbedaan kemampuan, sehingga sepertinya program pendidikan inklusi hanya terkesan program eksperimental. Kondisi ini jelas menambah beban tugas yang harus di emban para guru yang berhadapan langsung dengan persoalan teknis di lapangan. Di satu sisi para guru harus berjuang keras memenuhi tuntutan hati nuraninya untuk mencerdaskan seluruh siswanya, sementara di sisi lain para guru tidak memiliki ketrampilan yang cukup untuk menyampaikan materi pelajaran kepada siswa yang difabel. Situasi kelas yang seperti ini bukannya menciptakan sistem belajar yang inklusi, namun justru dapat menciptakan kondisi eksklusifisme bagi siswa difabel dalam lingkungan kelas reguler. Jelas ini menjadi dilema tersendiri bagi para guru yang di dalam kelasnya ada siswa difabel.
Implementasi pendidikan inklusif di Indonesia berimplikasi atau mengandung konsekuensi logis terhadap penyelenggaraan pendidikan di sekolah umum (reguler), antara lain sekolah harus lebih terbuka, ramah terhadap anak, dan tidak diskriminatif.
Dalam mengimplementasikan pendidikan inklusif perlu adanya system dukungan yang dipelukan dalam upaya mempercepat pemenuhan akses dan mutu pendidikan untuk semua (Education For All). Sistem dukungan tersebut dapat berupa dukungan dalam bentuk regulasi atau kebijakan-kebijakan pemerintah baik pusat maupun daerah yang jelas mengenai pendidikan inklusif misalnya dalam bentuk “peraturan pemerintah”, “peraturan menteri”, “peraturan daerah Provinsi/Kabupaten/Kota” mengenai pendidikan inklusif dukungan sarana dan prasarana, dukungan pembiayaan, dukungan tenaga (pendidik dan tenaga kependidikan) dan dukungan-dukungan dari lembaga pendukung. Lembaga pendukung tersebut antara lain melalui Kelompok Kerja (Pokja) Inklusif baik Nasional, Provinsi, Kabupaten/Kota), Pusat Sumber (Resource center) bagi sekolah umum yang menyelenggarakan pendidikan inklusif, wadah professional guru, kepala sekolah, dan pengawas sekolah seperti Gugus SD/SLB (KKG, KKKS, dan KKPS), MGMP, MKKS, dan MKPS). Dan dukungan lembaga lain yaitu LPTK, P4TK TK dan PLB, dan Balai/Badan Diklat, serta dukungan masyarakat.
Sunardi (2009) telah melakukan penelitian terhadap 12 sekolah penyelenggara inklusi di Kabupaten dan Kota Bandung, secara umum saat ini terdapat lima kelompok issue dan permasalahan pendidikan inklusi di tingkat sekolah yang perlu dicermati dan diantisipasi agar tidak menghambat, implementasinya tidak bias, atau bahkan menggagalkan pendidikan inklusi itu sendiri, permasalahan tersebut antara lain yaitu :
1. Belum didukung dengan sistem dukungan yang memadai. Peran orang tua, sekolah khusus, tenaga ahli, perguruan tinggi – LPTK PLB, dan pemerintah masih dinilai minimal. Sementara itu fasilitas sekolah juga masih terbatas.
2. Keterlibatan orang tua sebagai salah satu kunci keberhasilan dalam pendidikan inklusi, belum terbina dengan baik. Dampaknya, orang tua sering bersikap kurang peduli dan realistik terhadap anaknya.
3. Peran SLB yang diharapkan mampu berfungsi sebagai resource centre bagi sekolah-sekolah inklusi di lingkungannya, belum dapat dilaksanakan secara optimal, baik karena belum adanya koordinasi dan kerja sama maupun alasan geografik.
4. Peran ahli yang diharapkan dapat berfungsi sebagai media konsultasi, advokasi, dan pengembangan SDM sekolah masih sangat minimal.
5. LPTK PLB dalam diseminasi hasil penelitian, penelitian kolaborasi maupun dalam implementasi terhadap hasil-hasil penelitaian belum dapat diwujudkan dengan baik.
6. Peran pemerintah yang seharusnya menjadi ujung tombak dalam mendorong implementasi inklusi secara baik dan benar melalui regulasi aturan maupun bantuan teknis, dinilai masih kurang perhatian dan kurang proaktif terhadap permasalahan nyata di lapangan.
7. Kalaupun pemerintah saat ini sudah mengikutkan guru-guru dalam pelatihan atau memberikan bantuan yang sifatnya fisik atau keuangan, namun jumlahnya masih sangat terbatas dan belum merata.
8. Sekolah umumnya juga belum didukung fasilitas yang diperlukan untuk mendukung aksesibilitas dan keberhasilan pembelajaran secara memadai.
Berdasarkan hal diatas, maka beberapa hal yang dapat dilakukan guna mengatasi hambatan dalam penyelenggaraan pendidikan inklusi berkaitan dengan peran support system adalah sebagai berikut :
1. Sekolah dan Guru Ramah.
Perwujudan sekolah ramah (welcoming school) dan guru yang ramah (welcoming teacher) merupakan syarat utama dalam mengembangkan model layanan pembelajaran pendidikan inklusif melalui program pembelajaran yang diindividualisasikan. Sekolah dan guru ramah adalah sekolah dan guru yang tidak diskriminatif terhadap kondisi kecerdasan, fisik, sosial, emosi, kepercayaan, ras atau suku, golongan keyakinan, serta memahami dan menerima kebegaraman, mengutamakan pengembangan potensi siswa sesuai dengan bakat, minat dan karakteristiknya. Sekolah dan guru ramah merupakan sekolah dan guru yang mengakui keberagam manusia sebagai anugerah Yang Maha Kuasa – sekolah dan guru yang mengakui eksistensi manusia, sekolah dan guru dan memiliki keyakinan bahwa semua individu manusia memiliki potensi yang dapat dikembangkan dan memahami bahwa setiap individu manusia memiliki harapan, bakat, minat yang berbeda-beda. Sekolah dan guru demikian akan melayani dan memperlakukan siswa dalam pembelajarannya sesuai dengan harapan, bakat, minatnya.
2. Pusat Sumber (Resource Center) dan sarpras.
Pusat sumber (Resource center) adalah lembaga khusus yang ditunjuk atau dibentuk oleh pemerintah baik pusat maupun daerah sebagai pusat sumber dalam pengembangan pendidikan kebutuhan khusus atau pendidikan inklusif atau yang didirikan atas inisiatif masyarakat yang dapat dimanfaatkan oleh semua anak khususnya peserta didik berkebutuhan khusus, orang tua, keluarga, sekolah biasa/ sekolah luar biasa, masyarakat dan pemerinta serta pihak lain yang berkepentingan.
Pusat sumber idealnya bertempat di gedung sendiri yang dibangun oleh pemerintah dan atau masyarakat/swasta yang digunakan secara khusus sebagai Resource Center, namun karena untuk mempercepat keberadaannya dan pemanfaatannya serta dalam rangka efektivitas dan efisiensi maka Sekolah Luar Biasa yang telah ada dijadikan sebagai Resource Center saat ini SLB yang dijadikan Pusat Sumber disebut juga dengan Sentra Pendidikan Khusus (PK) dan Pendidikan Layanan Khusus (PLK).
3. Perluasan Peran dan Tugas SLB
Semua Sekolah Luar Biasa (SLB) bisa menjadi dan harus menjadi resource center (pusat sumber) bagi lingkungan pendidikan umum (inklusi) di sekitar sekolah tersebut. Masyarakat pendidikan dan masyarakat umum, sesungguhnya sangat membutuhkan kehadiran SLB sebagai resource center. Mereka berharap mampu menjalin hubungan kerja sama bagi kebutuhan layanan pendidikan yang mereka terapkan. Pusat sumber ini berfungsi sebagai tempat untuk menyediakan berbagai kebutuhan yang diperlukan oleh para guru, orangtua, dan yang paling utama adalah siswa di sekolah-sekolah umum yang sudah terbuka bersedia menerima siapa saja termasuk anak-anak berkelainan untuk bersekolah dan belajar.
Mewujudkan SLB sebagai pusat bagi penyelenggaraan pendidikan inklusi memang sebuah tantangan. SLB harus berperan secara aktif dalam merangkul dan bekerja sama dengan sekolah-sekolah yang telah mengadposi konsep inklusi yang berada di lingkungan sekitarnya, hal ini dapat dilakukan dengan mengirimkan guru-guru kunjung, melakukan pelatihan atau seminar mengenai penanganan ABK, atau dengan merekomendasikan anak-anak tertentu agar dapat ditempatkan di sekolah tersebut.
Sekolah dapat memilih bidang-bidang tertentu yang menjadi kompetensi sekolah dan diyakini mampu untuk diekspos untuk mewujudkan SLB sebagai pusat sumber. Misalnya, sebuah sekolah yang menyakini diri mampu dengan baik menangani anak autis dengan program-program tertentu, maka sekolah tersebut dapat menjadi pusat sumber bagi pendidikan anak autis. Atau sebuah sekolah yang memiliki sumber daya manusia dan sumber daya material terhadap program BKPBI, maka sekolah tersebut dapat lebih fokus sebagai resource center bagi program BKPBI. Idealnya, SLB harus dapat menjadi pusat sumber untuk semua elemen layanan pendidikan. Pengembangan sayap terhadap elemen-elemen yang lebih luas tentunya dapat dilakukan SLB secara bertahap. Pengelolaan SLB sebagai pusat sumber secara terstruktur dapat dipandu oleh lembaga-lembaga yang berkaitan langsung dengan SLB.
4. Kemitraan dengan lembaga berkait
Penyelenggaraan pendidikan inklusif dapat terselenggara sesuai dengan harapan apabila sekolah mengembangkan kemitraan dengan lembaga-lembaga berkait atau kementerian-kementerian terkait, misalnya dengan kementerian kesehatan dalam pemeriksaan kesehatan fisik, kementerian sosial dalam bantuan asesibililitas, kementerian perindustrian dalam mengembangkan kecakapan vokasional, kementerian hukum dan HAM dalam perlindungan hukum dan kementerian tenaga kerja dalam rangka perluasan kesempatan pekerjaan dan pengembangan karir.
5. Dukungan orangtua
Dukungan orangtua dan kerjasama dengan sekolah sangat diperlukan dalam melayani kebutuhan belajar anak di sekolah dalam upaya optimalisasi potensi anak, kerjasama yang erat antara orangtua dan guru dapat menghasilkan solusi terbaik dalam melayani kebutuhan belajar anak di sekolah. Keterlibatan orangtua secara aktif terhadap pendidikan anak di sekolah, sangat penting dalam kaitannya dengan negosiasi dalam mencari solusi berkenaan dengan pendidikan anak, baik di sekolah maupun di rumah. Keterlibatan orangtua dalam pendidikan, biasanya terbatas pada urusan pembiayaan operasional sekolah, kurang menyentuh pengembangan kebutuhan pembelajaran anak. Oleh karena itu, keterlibatan atau dukungan orangtua perlu dikembangkan terhadap persoalan pendidikan yang lebih luas, apabila akses orangtua ke sekolah lebih terbuka, permasalahan-permasalahan dan kebutuhan-kebutuhan yang dihadapi anak segera dapat ditanggulangi.
6. Wadah Profesional Guru, Kepala Sekolah, dan Pengawas Sekolah
Peningkatan mutu pendidikan telah menjadi kebijaksanaan pemerintah yang harus diwujudkan sebaik-baiknya. Usaha ini dilaksanakan dalam rangka peningkatan kualitas sumber daya manusia untuk mencapai tujuan pembangunan nasional. Dalam usaha peningkatan mutu pendidikan, faktor guru memegang peranan yang sangat penting, karena itu profesionalisme guru harus digalang secara sistematis melalui wadah-wadah pembinaan professional guru seperti KKG, KKKS, KKPS, MGMP, MKKS, dan MKPS). Diharapkan melalui wadah profesional ini dapat meningkatkan motivasi, inovasi dan kreasi guru sera memiliki skill yang baik sehingga dapat memberikan layanan yang optimal kepada semua peserta didik (Total Quality Services) secara khusus dan dapat meningkatkan kualitas layanan pendidikan (Total Quality Management) khususnya dalam upaya mengimplementasikan pendidikan inklusif.
Penutup
Perkembangan layanan pendidikan bagi siswa berkebutuhan khusus perlu ditopang dan didukung oleh berbagai pihak-pihak baik pemerintah, swasta, maupun masyarakat secara umum yang sungguh-sungguh berkomitmen tinggi dan saling terjalin kemitraan sehingga konsep Education For All pada akhirnya dapat dinikmati oleh seluruh generasi penerus Indonesia tanpa ada pengecualian.
Salah satu kunci kesuksesan pendidikan inklusi adalah dengan berperannya seluruh aspek sebagai support system yang komprehensif dan berfungsi secara optimal.
Sumber :
Sunardi (2009). Issues And Problems On Implementation Of Inclusive Education For Disable Children In Indonesia. Tsukuba: Criced – University Of Tsukuba.
Drs. Sunaryo (2010). Manajemen Pendidikan Inklusif (Konsep, Kebijakan, Dan Implementasinya Dalam Perspektif Pendidikan Luar Biasa). Http://Jurusanplb.Blogspot.Com/2010/07/Manajemen-Pendidikan-Inklusif-Konsep.Html
D.W. Yanti (2010). Prinsip-Prinsip Pembelajaran Di Sekolah Inklusi - Tuna Laras. Tersedia Di: Http://Www.Bintangbangsaku.Com/Content/Prinsip-Prinsip-Pembelajaran-Di-Sekolah-Inklusi-Tuna-Laras
Tuesday, November 22, 2011
KERJASAMA DAN PERAN GURU DAN ORANG TUA DALAM PENDIDIKAN BAGI ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS

Pengantar
Pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus bukan hanya berdasarkan pada kelainan khusus mereka, tetapi juga karena adanya kebutuhan terhadap layanan pendidikan khusus. Orang tua mempunyai hak dan kewajiban untuk turut serta atau melibatkan diri dalam proses layanan pendidikan bagi anaknya. Orang tua memegang peranan yang sangat penting bagi tumbuh kembang anak-anaknya yang mengalami hambatan. Kekhususan yang dimiliklnya tentunya memerlukan perhatian yang khusus bagi orang tua sehingga ada kesatuan cara pandang antara orang tua di rumah maupun dengan guru di sekolah, karena keberhasilan sebuah proses pendidikan bagi ABK sangat bergantung dari kerjasama yang sinergis antara pola pendidikan di sekolah dan pola asuh orang tua di rumah.
Adapun kerjasama dan peran yang dapat dilakukan oleh orang tua dan guru diantaranya adalah sebagai berikut :
1. Bagi dengan Hambatan Penglihatan
Anak dengan hambatan penglihatan atau tunanetra perlu memahami lingkungannya secara realistik. Untuk itu orang tua mempunyai peranan yang sangat strategis untuk meningkatkan kemampuan anak dalam menginterpretasikan apa yang dilakukanya dan menyesuaikan perilakunya dengan tepat. Orang tua sebaiknya sedini mungkin memindahkan perhatian anak tuna netra pada tangan dan kakinya, misalnya meletakkan bel kecil pada pergelangan kaki dan tanganya, atau dengan memotivasi anak untuk menggunakan kedua tanganya memegang sebuah botol atau cangkir. Selain itu menggunakan media mainan yang dapat berbunyi ketika disentuh juga dapat dimanfaatkan.
Untuk peningkatan perkembangan bahasa anak tuna netra dapat dilakukan dengan cara mengenalkan nama-nama benda yang di dengar, dicium, dan diraba. Bahasa itu dapat digunakan anak tuna netra untuk dapat meningkatkan penjelajahan terhadap lingkunganya.
Dalam bekerjasama dengan guru, orang tua merupakan salah satu sumber informasi dalam identifikasi dan assesmen kemampuan anak. Selain itu dalam proses pembelajaran, orang tua diharapkan dapat memperkaya pengetahuan dan ketrampilan belajar yang diperoleh anak di sekolah dengan mengulanginya kembali di rumah. Seluruh kegiatan ini membutuhkan pola komunikasi yang efektif antara guru dan orang tua sehingga dapat dicapai hasil pembelajaran yang maksimal.
2. Bagi anak dengan Hambatan Pendengaran
Pada umumnya anak dengan hambatan pendengaran atau tunarungu mengalami masalah dengan kemampuan menyampaikan bahasa lisan sehingga anak tuna rungu perlu didorong untuk mengembangkan bahasa isyarat. Walaupun pemberian penekanan pada penguasaan bahasa isyarat ini menimbulkan pro konta di kalangan para pakar. Disatu sisi anak memerlukan suatu sistem yang mendorong mereka mampu berkomunikasi secara efektif dan dapat menangkap informasi dari orang lain selain menggunakan bahasa lisan (dalam hal ini menggunakan bahasa isyarat). Sedangkan disisi lain berpandangan bahwa pemberian penekanan pada penguasaan bahasa isyarat akan mengganggu penguasaan bahasa lisan yang sedang dipelajari (Hidayat, 1998:5). Penekanan pada bahasa isyarat juga akan membatasi lingkungan pergaulan anak tuna rungu. Hal ini karena komunikasi hanya dapat berlangsung dengan orang-orang yang tahu dan paham bahasa isyarat yang digunakan.
Bahasa lisan anak tuna rungu dapat dikembangkan sesuai dengan kondisinya apabila mereka diberi kesempatan yang maksimal untuk mengembangkan ketrampilan yang memungkinkan mereka untuk berkomunikasi sebanyak-banyaknya.
Untuk mengembangkan kemampuan anak tuna rungu sesuai dengan potensinya, orang tua dan guru harus memberikan kesempatan sejak usia dini pada anak untuk mendapatkan latihan pendengaran bagi mereka yang masih mempunyai sisa pendengaran dan belajar bahasa isyarat. Proses tersebut harus difokuskan pada pemahaman anak tuna rungu secara individual sehingga orang tua dan guru perlu menyadari perbedaan perjalanan perkembangan anak tuna rungu.
3. Bagi anak dengan hambatan fisik
Pada umumnya anak dengan hambatan fisik atau tunadaksa tidak hanya mengalami kelainan fisik namun juga mengalami ketidakmampuan lainnya yang sifatnya lebih individual. Permasalahan yang banyak dialami selama ini adalah adanya ketidaksadaran orang tua bahwa anaknya dapat berkembang. Selama ini yang menjadi kendala berkembangnya anak tuna daksa adalah keengganan orang tua untuk memberi kesempatan kepada anaknya untuk berinteraksi dengan orang lain dan lingkungan sekitarnya. Kebanyakan orang tua sangat khawatir kalau anaknya berinteraksi dengan orang lain, disamping perasaan malu juga ketakutan bahwa anaknya nanti malah semakin parah.
Untuk itu maka orang tua harus disadarkan bahwa dengan semakin mengekang anaknya maka perkembangan anaknya akan semakin menurun. Disamping itu harus disadari oleh orang tua bahwa interaksi dengan manusia lain dan lingkungan sekitar itu adalah obat yang paling mujarab bagi anaknya.
4. Bagi anak dengan hambatan kecerdasan
Layanan pendidikan yang dapat dilakukan bagi anak dengan hambatan kecerdasan atau tunagrahita oleh orang tua, guru dan ahli psikoplogi lain adalah memberikan terapi yang integral baik dalam kemampuan bicara, motorik, dan sebagainya.
Orang tua berperan sangat besar dalam hal ini. Orang tua harus memberikan beragam latihan yang diulang-ulang. Hal ini karena anak Tunagrahita tidak mendasarkan diri pada pengtahuan yang diketahui sebelumnya. Dalam mengajarkan ketrampilan-ketrampilan orang tua atau guru perlu sekali mengaitkan dengan tingkat usia perkembangan kemampuan yang dimilikinya. Disamping itu anak Tunagrahita harus dibiasakan dalam kehidupan anak-anak normal. Sehingga proses interaksi akan menggugah alam sadar anak sehingga akan mampu lebih berkembang.
Sikap positif orang tua dipandang menjadi faktor penentu keberhasilan pemberdayaan anak berkebutuhan khusus ini. Untuk itu orang tua harus dibekali informasi yang lengkap tentang bagaimana mereka dapat membaca tanda-tanda aktivitas motorik anak sejak usia dini, menghilangkan pendangan yang tidak realistik, dan menghambat perkembangan anak. Dan disisi lain orang tua harus mampu menciptakan lingkungan yang dapat mengakomodasi kebutuhan anak sesuai dengan potensinya. Untuk membina dan melakukan konseling bagi orang tua maka perlu dilakukan kerja sama lintas sektoral antara orang tua, guru,dalam an ahli yang kompeten.
Sedang bagi guru agar lebih responsif dan lebih sensitif dalam menghadapi anak berkelainan. Guru harus tahu bagaimana perkembangan tiap anak, terutama bagi anak yang mengalami kelainan. Posisi guru akan sangat menentukan berhasil tidaknya proses pemberdayaan anak ini.
PENUTUP
Dalam pendidikan anak berkebutuhan khusus, peran orang tua dan guru sangatlah vital. Peranan orang tua dan guru sangatlah strategis dalam pencapaian tujuan pemberdayaan anak luar biasa. Agar anak yang mengalami kelainan tersebut mampu mencapai kemandirian dan melakukan penyesuaian sosial sehingga dapat berperan normal selayaknya anak-anak pada umumnya.
Layanan pendidikan anak berkebutuhan khusus akan dapat mencapai hasil yang optimal apabila orang tua dan guru mempunyai sikap positif terhadap kehadiran anak dengan kelaianan tersebut. Selama ini sikap negatif seringkali ada pada orang tua itu sendiri. Untuk itu maka sikap positif harus diwujudkan dan dimiliki oleh orang tua agar anaknya dapat berkembang dan mencapai potensi yang dimilikinya.
Sumber :
Hidayat, 1998. Kontribusi Orang Tua dalam Memberdayakan Anak Luar Biasa. Makalah dalam Seminar nasional Pemberdayaan Kemandirian anak luar Biasa menyongsong Abad XXI. 8 mei 1998. Jurusan KTP FIP IKIP MALANG
Kasim Eva Rahmi. 2001. Mengharapkan Sistem Pendidikan Terpadu. Dalam www. Tempo Interactive.com. diakses 2 oktober 2001
Mulyadi, Kresno. Pendidikan Seutuhnya Demi Hari Esok. Dalam www.Kompas Online.com. Diakses 2 Oktober 2001.
Thursday, February 17, 2011
Subscribe to:
Posts (Atom)

